Kulwa 2 - 5 Pondasi Sukses Berkah
Kuliah WhatsApp 2 Kandidat OYC 4
Pemateri :
Eko Nurdiawan Owner Sesuka Collection
Tanggal : 11 Maret 2020
Waktu : 20.00 - 21.30
“Dia orang sukses, aku ingin seperti dia”.
Kenapa ‘dia’?
Apakah karena dia seorang pengusaha yang cabangnya sudah puluhan bahkan ratusan outlet, punya mobil sport, rumah mewah dan popularitas?
Jika itu standarisasi sukses menurut Anda, maka pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana dengan seorang buruh bangunan yang penghasilannya rendah. Apakah mereka tak bisa disebut sukses?”
Bisa jadi di balik kisah sukses si pengusaha tersebut, banyak ‘tumbal partner’ yang dirugikan, banyak janji-janji yang diingkari. Mungkin Anda tak tahu, dibalik kepemilikan mobil dan rumah mewah, dia harus ‘menyikut’ rekan bisnisnya, putusnya silaturahim dengan saudaranya, demi mengejar ambisi kata ‘sukses’.
Bisa jadi si buruh bangunan saat ia pulang rumah dengan pakaian berkeringat, bau tak sedap, membawa tahu petis untuk keluarganya, kemudian ia disambut anak-anaknya bak ‘pahlawan’. Apakah dia tidak disebut sukses?”.
Sukses manakah antara si pengusaha dan buruh bangunan?
Anggaplah si pengusaha sudah kaya, dermawan, sholeh lagi. Sisi mana yang membuat Anda menilai kesuksesan dia? Kaya atau kesholehannya?
Bagaimana dengan...
Guru miskin di pedesaan yang mengajar sepenuh hati, sukseskah mereka?
Kyai pesantren yang hidupnya pas-pasan, namun santrinya ratusan bahkan ribuan. Tak bisa disebut sukses?
Ibumu yang hanya ibu rumah tangga. Gak sukses juga?
Karyawan yang loyal berjuang bersama Anda. Tumbal kesuksesan Anda kah?
Mungkin kita tak menyadari, bahwa standarisasi ‘sukses’ di benak kita selama ini dilandaskan atas materi semata. Hampir semua seminar motivasi, pelatihan bisnis, menggiring ‘makna sukses’ itu dengan pencapaian materi, seperti rumah mewah, mobil mahal, penghasilan miliaran perbulan dan bentuk materi lainnya. Astaghfirullaah… #insaf
Makna sukses seperti kompas hidup kita. Jika kita salah memahami makna sukses, maka kita akan salah arah
Bisa dipahami yah Sahabat2 poin tentang Makna Sukses ini?
Semoga kita tidak salah dalam memahami makna sukses kita 😇
Rumusnya Allah itu jelas ... Jika kita ingin ditambah nikmatnya, maka kita harus bersyukur.
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).
Hidup akan terasa bahagia jika kita selalu bersyukur.
Jangan su'udzon kepada apa2 yg tidak kita sukai.
Misal toko kita sepi, mungkin sepinya jualan kita adalah bentuk rezeko yg berbeda daripada rame.
Orang sakit itu dapat rezeki kesadaran dan kesabaran.
Betul ndak? Nah, sedangkan orang sehat itu diuji dengan kelalaian dan kesombongan.
Jadi dicari terus apa yg sekiranya bisa membuat kita bersyukur.
Karena syukur itu menerbitkan kegembiraan yg murni dan sejati.
Apapun yg kita alami carilah yg mampu membut kita mensyukurinya.
Bisa dipahami yah Sahabat2....
Selalu Temukan Syukur kita 😇
Seolah menjadi hukum sebab akibat bahwa “Jika Anda bekerja keras, maka PASTI akan menuai HASIL”. Dalam makna sebaliknya “Jika tidak berhasil setelah bekerja keras, maka prosesmu telah berkhianat padamu”. Begitukah?
Mengerjakan proses adalah kewajiban kita, mendapatkan hasil adalah hak Allah.
Renungkan kembali, apakah setiap proses yang sudah kita lalui dengan benar, maka hasilnya sesuai dengan perhitungan (harapan) kita?
Selain ‘Faktor Langit’, juga diakibatkan kedangkalan ilmu kita untuk memahami variabel kehidupan yang begitu kompleks dan dinamis.
Misalnya:
Saat kita menyetir mobil dengan benar, apakah kita pasti akan selamat?
Mungkin kita benar, tapi ada orang lain yang tak benar menyetirnya dan ‘dipertemukan’ dengan kita, sehingga musibah pun terjadi. Itulah yang disebut kuasa Allah, alias diluar kekuasaan manusia.
Bisnis pun demikian. Meski sudah kita perhitungkan dengan seksama, sedekah berlimpah, leadership bagus, tapi musibah tetap datang. Lantas buat apa kita berusaha?
Usaha adalah bagian dari ibadah kita, jika niatnya benar dan prosesnya terjaga. Usaha adalah proses memantaskan diri untuk ‘mendapatkan dan mengelola’ rezeki.
Namun Allah tak ingin kita ‘bersandar’ pada amal kita (termasuk sedekah). Allah hanya ingin kita bersandar kepada-Nya saja.
Di sisi lain, Allah tak ingin kita berusaha ‘sakpenake dewe’ dan hanya memperbanyak doa, agar ‘takdirnya bagus’. Allah tak ingin kita frustasi oleh ikhtiar yang kita jalani, maka dari itu diturunkanlah ‘sunatullah’ atau hukum alam. Jika kita ikuti kaidah-kaidah hukum alamnya, maka ‘kemungkinan besar’ kita akan ‘menuai’ apa yang kita ‘tanam’. Dengan demikian, kita termotivasi untuk terus belajar menguak hukum alam, sebagai bagian dari keimanan kita terhadap kesempurnaan tatanan alam semesta.
Berharap terhadap hasil dikarenakan amalan kita, serupa dengan berharap kepada selain Allah. Amalan kita seolah menjadi ‘berhala’ kita. Selain akan membuat Allah ‘cemburu’, juga membuat kita stres saat tak tercapai. Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap?
Bertawakal sebelum berikhtiar. Artinya mengimani hasil, bahkan sebelum kita memulai. Sehingga apapun yang terjadi di depan sana adalah kebaikan bagi kita dan wujud kasih sayang Allah kepada kita. Bismillaah… kemudian melangkah..
Bisa dipahami sampai sini yah Sahabat2...
Saat tiap jengkal langkah bisnis kita menjadi rahmat bagi sekitar, baik dalam kondisi untung (materi) ataupun rugi.
Setiap kali ada kebimbangan, tengok ulang ‘makna sukses’ kita, sebagai kompas untuk kembali. Agar tak sesat di jalan.
“Yang penting kan hasilnya aku sedekahin 20%..” >> Ini namanya ‘syariah’ di tujuan, mengabaikan proses. Padahal yang namanya syariah itu selain niat (tujuan) yang benar, juga menjaga kebenaran di setiap prosesnya.
Jika berbicara keberkahan dalam proses Ikhtiar, maka check listnya sebagai berikut:
APA YANG DIJUAL?
Halal itu harus, namun jangan abaikan ‘thoyyib’, karena sepaket. Halal tanpa bermanfaat atau bergizi (untuk makanan), tidaklah masuk dalam kategori berkah. Apalagi jika tak sesuai ‘dosis’ konsumsinya. Bukan hanya berlaku dalam urusan pangan, namun juga di semua sektor.
KENAPA DIJUAL?
Barang halal, bisa jadi digunakan untuk cara yang tak berkah. Sandang - Pangan - Papan yang diposisikan untuk menampilkan ‘kasta’ seseorang, akan menjadi jurang perbedaan antara si kaya dan miskin. Keserakahan investasi properti, akan memicu kenaikan harga, sehingga semakin tak terjangkau bagi si miskin, juga berdampak pada penebangan lahan berlebih.
BAGAIMANA CARA MENJUAL?
Cara menjual dengan ‘membual’ atau apa adanya?
“Selling adalah aktivitas menyampaikan informasi hingga dimengerti oleh calon konsumen, sejelas-jelasnya”. Selling bukanlah aktivitas (ilmu) memanipulasi orang, untuk sekadar mengejar ‘closing’. Beredarnya ilmu ‘manipulasi’ dalam penjualan, promo yang bombastis, serupa dengan menggunakan pupuk non organik pada media tanam. Alhasil, tanah akan semakin rakus, sehingga akan berdampak juga pada ‘penjual yang jujur’. Banting-bantingan harga, hingga jual rugi dilakoni. Meski hitungan jangka panjang mereka masuk, namun para pengecer bermodal cekak, tak mampu mengikuti permainan mereka akan tumbang.
RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN
Keberkahan yang paripurna adalah “Menjadi rahmat bagi alam semesta”, bukan hanya bagi manusia saja, namun juga tumbuhan, binatang, mikroba, dan makhluk Allah lainnya. KESERAKAHAN dari sisi pebisnis atau pun konsumen, akan merusak ekosistem; mengganggu keseimbangan alam.
Ekosistem dalam bisnis, setidaknya adalah:
KONSUMEN;
Harus mendapat kepuasan, manfaat dan keselamatan, bukan asal membeli produk kita. Penggunaan bahan berbahaya yang seolah tak terlihat dampaknya sekarang, bukan berarti aman dalam jangka panjang. “Tapi konsumen puas dan gak ada komplain tuh?”. Benar..! Bisnis rokok juga membunuh dalam jangka panjang. Penggunaan mercury pada kosmetik juga berdampak mulus di luar, merusak di dalam. Balik ke nurani kita saja, gak perlu membuat pembenaran.
KARYAWAN; Bukankah tujuan menjadi pengusaha adalah menjadi jembatan rejeki bagi orang lain? Sudah seharusnya karyawan yang menjadi prioritas utama setelah konsumen. UMR adalah kata cukup ‘mentok’ kebutuhan mereka. Jika bisa bayar lebih, kenapa harus bayar sedikit?! Tentu dengan asas keadilan bagi lainnya, atas dasar prestasi dan loyalitas. Pemurah bukan berarti memanjakan, namun berorientasi mendidik. Pemimpin yang bijak akan menumbuhkan timnya, bukan menjadikannya sebagai robot.
KOMPETITOR; Mereka juga manusia, kendalikan (dari keserakahan dan monopoli), bukan dibasmi. Apalagi kompetitor yang memiliki ‘nilai keberkahan’ yang sama, patut saling bantu. Sehingga majunya bisnis mereka juga memajukan perekonomian sekitar. Kompetitor yang berkompetisi dengan sehat, bukanlah musuh yang patut dibasmi, justru dapat menaikkan market size (mengedukasi pasar). Kompetitor dalam lingkup yang lebih besar dapat menjadi mitra dalam melawan serbuan kapitalis.
SUPPLIER/KONTRAKTOR; Segerakan pembayaran jika sudah ada. Pembayaran yang tertunda ibarat sirkulasi darah yang tersendat, dapat membunuh bisnis pendukung kita nantinya. Berikan mereka ‘nafas lebih’ dengan berani ‘membayar lebih mahal’, jika memang pantas dalam kualitas. Prinsip “Mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya adalah ajaran kapitalis yang sesat”. Salah satu yang mematikan petani dan produsen di Indonesia, selain tengkulak dan importir adalah kurangnya penghargaan terhadap ‘keringat’ mereka. Seolah para ‘pemasar’ adalah raja yang semena-mena.
PELENGKAP; Jadikan bisnis kita menghidupkan ‘bisnis pasangan’ lainnya. Seperti batagor yang berjodoh dengan es campur, mie ayam, kerupuk. Jadi ngiler deh... Bergandengan saling melengkapi itu asik, menjomblo itu membosankan #EHH. Salah satu tanda keberkahan suatu bisnis adalah kemampuan menumbuhkan bisnis lain di sekitarnya. Seperti para wali, bukan hanya saat mereka hidup, jasadnya pun masih menebar berkah rejeki di sekitarnya.
LINGKUNGAN/ALAM; Tak cukup kepada manusia, tapi bumi tempat bernaung makhluk selain kita juga harus dijaga. Bencana alam yang terjadi, ada andil besar manusia karena perusakan ekosistem yang sering diabaikan.
Lanjutt yahh....
Yang terakhir atau yg ke-5... 😇
Business is Wasilah (Jalan), tujuannya Lillah (Allah). Kalau bisnisnya menjauhkan kita dari-Nya, lebih baik jangan bisnis.
Kalau profesi karyawan, petani, nelayan, guru bisa semakin mendekatkan kita pada-Nya, lebih baik jalani profesi itu saja.
Pengusaha, Karyawan, Petani, Guru, Nelayan, SAMA SAJA. Tidak ada yang lebih mulia kecuali ketaqwaannya kepada Allah.
Bukan soal kekayaan, bukan soal kesuksesan, tapi soal kedekatan kita pada-Nya. Perbanyak Ibadahnya, Kurangi maksiatnya.
Sampun yah......
Jempol mulai keriting 😁
Pemateri :
Eko Nurdiawan Owner Sesuka Collection
Tanggal : 11 Maret 2020
Waktu : 20.00 - 21.30
1. Temukan Makna Suksesmu
Apa sih deskripsi atau skala sukses itu menurut Anda?“Dia orang sukses, aku ingin seperti dia”.
Kenapa ‘dia’?
Apakah karena dia seorang pengusaha yang cabangnya sudah puluhan bahkan ratusan outlet, punya mobil sport, rumah mewah dan popularitas?
Jika itu standarisasi sukses menurut Anda, maka pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana dengan seorang buruh bangunan yang penghasilannya rendah. Apakah mereka tak bisa disebut sukses?”
Bisa jadi di balik kisah sukses si pengusaha tersebut, banyak ‘tumbal partner’ yang dirugikan, banyak janji-janji yang diingkari. Mungkin Anda tak tahu, dibalik kepemilikan mobil dan rumah mewah, dia harus ‘menyikut’ rekan bisnisnya, putusnya silaturahim dengan saudaranya, demi mengejar ambisi kata ‘sukses’.
Bisa jadi si buruh bangunan saat ia pulang rumah dengan pakaian berkeringat, bau tak sedap, membawa tahu petis untuk keluarganya, kemudian ia disambut anak-anaknya bak ‘pahlawan’. Apakah dia tidak disebut sukses?”.
Sukses manakah antara si pengusaha dan buruh bangunan?
Anggaplah si pengusaha sudah kaya, dermawan, sholeh lagi. Sisi mana yang membuat Anda menilai kesuksesan dia? Kaya atau kesholehannya?
Bagaimana dengan...
Guru miskin di pedesaan yang mengajar sepenuh hati, sukseskah mereka?
Kyai pesantren yang hidupnya pas-pasan, namun santrinya ratusan bahkan ribuan. Tak bisa disebut sukses?
Ibumu yang hanya ibu rumah tangga. Gak sukses juga?
Karyawan yang loyal berjuang bersama Anda. Tumbal kesuksesan Anda kah?
Mungkin kita tak menyadari, bahwa standarisasi ‘sukses’ di benak kita selama ini dilandaskan atas materi semata. Hampir semua seminar motivasi, pelatihan bisnis, menggiring ‘makna sukses’ itu dengan pencapaian materi, seperti rumah mewah, mobil mahal, penghasilan miliaran perbulan dan bentuk materi lainnya. Astaghfirullaah… #insaf
Makna sukses seperti kompas hidup kita. Jika kita salah memahami makna sukses, maka kita akan salah arah
Bisa dipahami yah Sahabat2 poin tentang Makna Sukses ini?
Semoga kita tidak salah dalam memahami makna sukses kita 😇
2. Selalu Temukan Syukurmu
Bersyukurlah, niscaya nikmatmu akan ditambah...Rumusnya Allah itu jelas ... Jika kita ingin ditambah nikmatnya, maka kita harus bersyukur.
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).
Hidup akan terasa bahagia jika kita selalu bersyukur.
Jangan su'udzon kepada apa2 yg tidak kita sukai.
Misal toko kita sepi, mungkin sepinya jualan kita adalah bentuk rezeko yg berbeda daripada rame.
Orang sakit itu dapat rezeki kesadaran dan kesabaran.
Betul ndak? Nah, sedangkan orang sehat itu diuji dengan kelalaian dan kesombongan.
Jadi dicari terus apa yg sekiranya bisa membuat kita bersyukur.
Karena syukur itu menerbitkan kegembiraan yg murni dan sejati.
Apapun yg kita alami carilah yg mampu membut kita mensyukurinya.
Bisa dipahami yah Sahabat2....
Selalu Temukan Syukur kita 😇
3. Pahami Konsep Rezeki
“Hasil tak menghianati proses” atau “Proses tak menghianati hasil”, benarkah kalimat itu?Seolah menjadi hukum sebab akibat bahwa “Jika Anda bekerja keras, maka PASTI akan menuai HASIL”. Dalam makna sebaliknya “Jika tidak berhasil setelah bekerja keras, maka prosesmu telah berkhianat padamu”. Begitukah?
Mengerjakan proses adalah kewajiban kita, mendapatkan hasil adalah hak Allah.
Renungkan kembali, apakah setiap proses yang sudah kita lalui dengan benar, maka hasilnya sesuai dengan perhitungan (harapan) kita?
Selain ‘Faktor Langit’, juga diakibatkan kedangkalan ilmu kita untuk memahami variabel kehidupan yang begitu kompleks dan dinamis.
Misalnya:
Saat kita menyetir mobil dengan benar, apakah kita pasti akan selamat?
Mungkin kita benar, tapi ada orang lain yang tak benar menyetirnya dan ‘dipertemukan’ dengan kita, sehingga musibah pun terjadi. Itulah yang disebut kuasa Allah, alias diluar kekuasaan manusia.
Bisnis pun demikian. Meski sudah kita perhitungkan dengan seksama, sedekah berlimpah, leadership bagus, tapi musibah tetap datang. Lantas buat apa kita berusaha?
Usaha adalah bagian dari ibadah kita, jika niatnya benar dan prosesnya terjaga. Usaha adalah proses memantaskan diri untuk ‘mendapatkan dan mengelola’ rezeki.
Namun Allah tak ingin kita ‘bersandar’ pada amal kita (termasuk sedekah). Allah hanya ingin kita bersandar kepada-Nya saja.
Di sisi lain, Allah tak ingin kita berusaha ‘sakpenake dewe’ dan hanya memperbanyak doa, agar ‘takdirnya bagus’. Allah tak ingin kita frustasi oleh ikhtiar yang kita jalani, maka dari itu diturunkanlah ‘sunatullah’ atau hukum alam. Jika kita ikuti kaidah-kaidah hukum alamnya, maka ‘kemungkinan besar’ kita akan ‘menuai’ apa yang kita ‘tanam’. Dengan demikian, kita termotivasi untuk terus belajar menguak hukum alam, sebagai bagian dari keimanan kita terhadap kesempurnaan tatanan alam semesta.
Berharap terhadap hasil dikarenakan amalan kita, serupa dengan berharap kepada selain Allah. Amalan kita seolah menjadi ‘berhala’ kita. Selain akan membuat Allah ‘cemburu’, juga membuat kita stres saat tak tercapai. Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap?
Bertawakal sebelum berikhtiar. Artinya mengimani hasil, bahkan sebelum kita memulai. Sehingga apapun yang terjadi di depan sana adalah kebaikan bagi kita dan wujud kasih sayang Allah kepada kita. Bismillaah… kemudian melangkah..
Bisa dipahami sampai sini yah Sahabat2...
4. Berkah dalam Ikhtiar
Apa itu Keberkahan dalam Iktiar?Saat tiap jengkal langkah bisnis kita menjadi rahmat bagi sekitar, baik dalam kondisi untung (materi) ataupun rugi.
Setiap kali ada kebimbangan, tengok ulang ‘makna sukses’ kita, sebagai kompas untuk kembali. Agar tak sesat di jalan.
“Yang penting kan hasilnya aku sedekahin 20%..” >> Ini namanya ‘syariah’ di tujuan, mengabaikan proses. Padahal yang namanya syariah itu selain niat (tujuan) yang benar, juga menjaga kebenaran di setiap prosesnya.
Jika berbicara keberkahan dalam proses Ikhtiar, maka check listnya sebagai berikut:
APA YANG DIJUAL?
Halal itu harus, namun jangan abaikan ‘thoyyib’, karena sepaket. Halal tanpa bermanfaat atau bergizi (untuk makanan), tidaklah masuk dalam kategori berkah. Apalagi jika tak sesuai ‘dosis’ konsumsinya. Bukan hanya berlaku dalam urusan pangan, namun juga di semua sektor.
KENAPA DIJUAL?
Barang halal, bisa jadi digunakan untuk cara yang tak berkah. Sandang - Pangan - Papan yang diposisikan untuk menampilkan ‘kasta’ seseorang, akan menjadi jurang perbedaan antara si kaya dan miskin. Keserakahan investasi properti, akan memicu kenaikan harga, sehingga semakin tak terjangkau bagi si miskin, juga berdampak pada penebangan lahan berlebih.
BAGAIMANA CARA MENJUAL?
Cara menjual dengan ‘membual’ atau apa adanya?
“Selling adalah aktivitas menyampaikan informasi hingga dimengerti oleh calon konsumen, sejelas-jelasnya”. Selling bukanlah aktivitas (ilmu) memanipulasi orang, untuk sekadar mengejar ‘closing’. Beredarnya ilmu ‘manipulasi’ dalam penjualan, promo yang bombastis, serupa dengan menggunakan pupuk non organik pada media tanam. Alhasil, tanah akan semakin rakus, sehingga akan berdampak juga pada ‘penjual yang jujur’. Banting-bantingan harga, hingga jual rugi dilakoni. Meski hitungan jangka panjang mereka masuk, namun para pengecer bermodal cekak, tak mampu mengikuti permainan mereka akan tumbang.
RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN
Keberkahan yang paripurna adalah “Menjadi rahmat bagi alam semesta”, bukan hanya bagi manusia saja, namun juga tumbuhan, binatang, mikroba, dan makhluk Allah lainnya. KESERAKAHAN dari sisi pebisnis atau pun konsumen, akan merusak ekosistem; mengganggu keseimbangan alam.
Ekosistem dalam bisnis, setidaknya adalah:
KONSUMEN;
Harus mendapat kepuasan, manfaat dan keselamatan, bukan asal membeli produk kita. Penggunaan bahan berbahaya yang seolah tak terlihat dampaknya sekarang, bukan berarti aman dalam jangka panjang. “Tapi konsumen puas dan gak ada komplain tuh?”. Benar..! Bisnis rokok juga membunuh dalam jangka panjang. Penggunaan mercury pada kosmetik juga berdampak mulus di luar, merusak di dalam. Balik ke nurani kita saja, gak perlu membuat pembenaran.
KARYAWAN; Bukankah tujuan menjadi pengusaha adalah menjadi jembatan rejeki bagi orang lain? Sudah seharusnya karyawan yang menjadi prioritas utama setelah konsumen. UMR adalah kata cukup ‘mentok’ kebutuhan mereka. Jika bisa bayar lebih, kenapa harus bayar sedikit?! Tentu dengan asas keadilan bagi lainnya, atas dasar prestasi dan loyalitas. Pemurah bukan berarti memanjakan, namun berorientasi mendidik. Pemimpin yang bijak akan menumbuhkan timnya, bukan menjadikannya sebagai robot.
KOMPETITOR; Mereka juga manusia, kendalikan (dari keserakahan dan monopoli), bukan dibasmi. Apalagi kompetitor yang memiliki ‘nilai keberkahan’ yang sama, patut saling bantu. Sehingga majunya bisnis mereka juga memajukan perekonomian sekitar. Kompetitor yang berkompetisi dengan sehat, bukanlah musuh yang patut dibasmi, justru dapat menaikkan market size (mengedukasi pasar). Kompetitor dalam lingkup yang lebih besar dapat menjadi mitra dalam melawan serbuan kapitalis.
SUPPLIER/KONTRAKTOR; Segerakan pembayaran jika sudah ada. Pembayaran yang tertunda ibarat sirkulasi darah yang tersendat, dapat membunuh bisnis pendukung kita nantinya. Berikan mereka ‘nafas lebih’ dengan berani ‘membayar lebih mahal’, jika memang pantas dalam kualitas. Prinsip “Mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya adalah ajaran kapitalis yang sesat”. Salah satu yang mematikan petani dan produsen di Indonesia, selain tengkulak dan importir adalah kurangnya penghargaan terhadap ‘keringat’ mereka. Seolah para ‘pemasar’ adalah raja yang semena-mena.
PELENGKAP; Jadikan bisnis kita menghidupkan ‘bisnis pasangan’ lainnya. Seperti batagor yang berjodoh dengan es campur, mie ayam, kerupuk. Jadi ngiler deh... Bergandengan saling melengkapi itu asik, menjomblo itu membosankan #EHH. Salah satu tanda keberkahan suatu bisnis adalah kemampuan menumbuhkan bisnis lain di sekitarnya. Seperti para wali, bukan hanya saat mereka hidup, jasadnya pun masih menebar berkah rejeki di sekitarnya.
LINGKUNGAN/ALAM; Tak cukup kepada manusia, tapi bumi tempat bernaung makhluk selain kita juga harus dijaga. Bencana alam yang terjadi, ada andil besar manusia karena perusakan ekosistem yang sering diabaikan.
Lanjutt yahh....
Yang terakhir atau yg ke-5... 😇
5. Bisnis adalah Wasilah
Jadikan bisnis yang kita jalankan sebagai jalan kebaikan, bukan sekedar meraup keuntungan. Kalau sudah begitu, bakal banyak orang yang mengharapkan bisnis kita besar, entah itu tim kita, karyawan, supplier, reseller, agen, bahkan konsumen sekalipun akan ikut bahagia saat bisnis kita semakin besar, karena mereka merasakan manfaat yang besar pula.Business is Wasilah (Jalan), tujuannya Lillah (Allah). Kalau bisnisnya menjauhkan kita dari-Nya, lebih baik jangan bisnis.
Kalau profesi karyawan, petani, nelayan, guru bisa semakin mendekatkan kita pada-Nya, lebih baik jalani profesi itu saja.
Pengusaha, Karyawan, Petani, Guru, Nelayan, SAMA SAJA. Tidak ada yang lebih mulia kecuali ketaqwaannya kepada Allah.
Bukan soal kekayaan, bukan soal kesuksesan, tapi soal kedekatan kita pada-Nya. Perbanyak Ibadahnya, Kurangi maksiatnya.
Sampun yah......
Jempol mulai keriting 😁


